Bismillahi’rohmannirohim..
Nampaknya keraguan telah menjangkiti sejak awal penulisan ini. Keraguan atas kemampuan penulis untuk dapat mengalami kembali (re-experiencing)dunia mental (individualitas) dari seorang Jerome Frank. Mungkin berlebihan, namun seandainya tidak, dapat dipahami bahwa mengingat hampir sebagian karyanya itu memuat narasi-narasi yang oleh para pengkritiknya dilabeli sebagai seorang ‘determinis psikologi’ dengan sifat sugestif dan non-hukum.
Terlepas dari benar tidaknya para pengkritik tentang pandangannya tersebut, artinya Jerome Frank telah membangun kesadaran dunia mentalnya untuk menilai hal-hal objektif (fakta) yang dilihat/dialaminya, dan hal tersebut merupakan domain penafsiran psikologis yang bukan mengenai perasaan ataupun emosional, namun merupakan apa yang disebut oleh Schleiermacher sebagai perkara epistemis, yaitu memahami apa yang dipikirkan oleh seorang Jerome Frank.
Dalam membaca karyanya kita dapat melihat kembali pengalaman pribadi, latar belakang sejarah, dan asal mula pemikiran Jerome Frank. Faktor tersebutlah yang memainkan peran kunci dalam pembentukan pemikiran-pemikiran Frank, dimana faktor dimaksud menunjukan kedekatan pikirannya dengan psikoanalisis (Freudian).
Menyadari hal tersebut, segera terbayang permasalahan kesenjangan waktu, sejarah dimasa lalu, perbedaan penggunaan bahasa, dan kebudayaan hukum untuk sekedar dapat memahami teks Law and The Modern Mind(LMM). Untuk itulah penulis akan mencadangkan niatnya untuk memberikan ulasan kali ini (karena ‘ulasan’ penulis mungkin akan terasa dangkal), namun setidak-tidaknya kesempatan ini akan digunakan untuk menyampaikan pengalaman penulis dalam membaca karya Frank – LMM.
Anak dari seorang pengacara ini lahir di New York pada tahun 1889 dan meninggal pada tahun 1957. Menyelesaikan gelar kesarjanaannya di University of Chicago Law School dan memiliki pengalaman sebagai pengacara, peneliti, penulis, filosof-inteletual hukum, dan terakhir menjabat sebagai hakim pengadilan banding pada tahun 1941 sampai akhir hayatnya. Karya LMM sendiri ditulisnya pada tahun 1930 yang mungkin kemudian mengantarkannya berkarir sebagai hakim banding selama hampir sepertiga usianya.
Hal yang memicu kontroversi sekaligus provokasi dalam karyanya LMM yaitu Frank memberikan komentar dan kritiknya terhadap hakim dilingkungan pengadilan dalam mengambil keputusan yang selalu didasarkan pada kepastian hukum (positivistik) – hanya membuat kesimpulan hukum dari tempat yang jelas, pasti, dan secara substansial tidak berubah, yang kemudian ia sebut sebagai “mitos dasar dalam hukum” (baca Yurisprudensi: Sebuah Pemaknaan Kritis Dimensi Statis).
Pilihan bahasa yang sedikit agak telanjang dengan penekanan diksi yang tebal dalam mengkritik pandangan lawan-lawannya menjadi kekhasan gaya penulisan Frank. Sebagai contoh Frank menyampaikan sindirannya atas pendapat dari seorang yang dinilai cukup cerdas seperti Roscoe Pound, namun menyatakan sesuatu yang menunjukan sebaliknya yaitu dikatakan bahwa sebuah kasus yang berkaitan dengan “kepemilikan” atau “transaksi komersial/bisnis”, keputusan biasanya akan mudah disamakan karena itu dihasilkan dari suatu aturan hukum yang terperinci, yang secara otoriter ditentukan lebih dahulu dan diterapkan secara mekanis.
Frank dalam karyanya menempatkan kritik yang tajam terhadap kepastian hukum. Frank membangun skeptisisme konstruktif terhadap teori hukum klasik melalui pembacaan humanisme dan pragmatisme. Seorang yang juga menaruh minatnya pada psikologi ini juga menunjukkan apabila seandainya ketidakpastian hukum berakar pada faktor subyektif manusia, tidak berarti formalisme hukum tradisional dalam hal ini kemudian dapat membenarkan dirinya sendiri. Artinya sikap skeptisisme konstruktif yang ingin tunjukkannya yaitu bahwa ketidakpastian hukum yang bersumber dari faktor subektif dapat dibenarkan dalam filsafat dan penelitian hukum, namun disisi lain tidak dapat hanya sebatas pada logika formal yang tidak fleksibel dengan menolak faktor-faktor subyektif.
Selanjutnya, seseorang yang juga lebih memilih disebut sebagai skeptisisme konstruktif dari pada disebut realis hukum ini pun berpendapat bahwa orang harus terbuka untuk pendekatan multi-perspektif dan harus mempertimbangkan dan menilai pengaruh faktor subyektif dalam proses membuat sebuah keputusan yudisial.
Dalam catatan penulis yang pernah disampaikan sebelumnya mengenai “Yurisprudensi: Sebuah pemaknaan kritis”, terbangun pula sikap skeptis penulis terhadap pola skeptisisme konstruktif ini, yaitu kemungkinan tentang adanya hal yang spekulatif dalam menerapkan pola seperti ini. Pun hal ini mengundang pikiran penulis yang lain bahwa apabila hal ini berpihak sebaliknya kepada kaum penguasa maka runtuhlah maksud kemanfaatan dalam pandangan hukum ini.
Upaya Frank dalam merumuskan teori yang menelanjangi pola tradisional teori klasik filsafat hukum dilawankannya pada pola-pola teori kontemplatif, membongkar distorsi-distorsi persoalan hukum terkait dengan mitos dunia hukum dan membangunnya kembali dengan kajian realisme hukum dan prinsip psikologi praktik hukum. Pada akhirnya, karya yang cukup provokatif ini patut menjadi perhatian bagi siapa yang memiliki minatnya dalam pergumulan makna-makna hukum yang terasingkan. Selamat membaca dan tersesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *